Hari, bulan, dan tahun telah berlalu tanpa lebam, sebab aku tak menggubris penabraknya.
Hari ini, tepat dimana sajak bermakna lara ini ditulis, aku kembali menerima rasa sakit dengan penabrak yang masih sama. Rasa sakit ini jauh lebih sakit, berbeda dengan sebelumnya dan mematikan.
*
Biru. Warna hidup yang perlahan sudah kuning, kini kembali menemui ajalnya. Sirna. Hanya biru dan lara yang saat ini kukenali. Berwajah sama, namun tampak tak seperti biasanya. Kata maaf kemarin sudah tak lagi wangi. Amis. Pekat dengan bau penyesalan yang sudah-sudah.
Tak terkejut dengan penyebabnya. Aku menemui penuai kesalahan fatal itu lagi. Aku tertabrak lagi oleh penabrak berwajah memelas yang pernah menabrakku waktu itu.
Sempat berandai bagaimana jika penabrak itu merasakan sakitnya lebam dan perih di sekujur tubuhnya.
Namun entah perasaan mana yang tak membiarkanku memberi si penabrak rasa sakit yang sama. Yang kulakukan malah memberikan singgah sana ternyaman dengan kasur dari bulu angsa, dan selimut dari bulu domba, serta seluruh cinta yang kutanam di setiap jahitannya.
Kedengarannya sungguh tidak adil. Namun kata ayah, "Begitulah kehidupan.." Sudi tak sudi aku harus melolokkan mata dan menelannya mentah-mentah hingga kerongkonganku patah.
**
Memang sakit saat aku menerima lebam-lebam itu. Tapi ada yang lebih sakit lagi. Yakni, akulah yang mengajari penabrak itu mengemudikan mobilnya, dan membiarkan ia menabrakku sekencang-kencangnya.
Tabrakan yang terjadi bukanlah yang pertama kali. Setiap ia menabrakku, aku selalu berharap itu adalah tabrakan terakhir dan lebam terakhir yang aku terima.
Meski dengan banyak lebam dan luka, aku selalu mengampuninya setiap kali ia telah menabrakku meski pada akhirnya ia menabrakku lagi dan lagi.
Alih-alih memarahinya, yang kulakukan malah menuntunnya kembali ke mobil dan memberinya beberapa kesempatan. Mempercayainya, jika kali ini ia akan bisa mengendalikan mobil itu dengan baik.
***
Aku tak bodoh. Aku hanya sial.
Sialnya aku selalu berusaha percaya,
namun juga selalu dibodohi olehnya.
Kukira setelah kuberi banyak kesempatan untuk mencoba, ia akan lebih mahir mengemudikan mobilnya. Namun naas, semuanya gagal.
Berita paling buruknya adalah, kali ini aku tertabrak hingga mati. Tenggelam; dan tak akan pernah ditemukan, dalam rasa sakit yang tak akan pernah sembuh.
Dalam insiden ini, penabrak itu mencariku hingga ke ujung bumi.
Bersujud dalam penyesalan,
dan berdoa agar aku baik-baik saja.
Aku mendengar isak tangis itu dari segala sisi.
Semuanya berisi permohonan agar aku kembali dan menuntunnya dalam kesempatan terakhirnya.
Ia merapalkan permintaan maaf yang tak kunjung putus,
agar kuampuni sekali lagi.
Sayangnya, Tuhan tak mengabulkan doa-doanya.
Aku, tak'kan pernah sembuh.
Aku, tak'kan pernah utuh lagi.
Aku, tak'kan pernah kembali ...
****
Kesalahan itu adalah pembelajaran untuknya.
Penyesalan itu adalah bekalnya.
Namun pengampunan atas dasar cinta yang dibayar mati,
bukanlah harga yang pantas diterima.
Hargailah.
Atau semuanya sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar