Cemas

Semua hal buruk rasanya tengah asik bercengkrama di dahan pikiranku. Mereka seakan-akan mencintai caraku memikirkan keadaan yang berkecamuk. Benar apa kata seseorang itu, "Kau hanya mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak. Kau terlalu ambigu di berbagai hal. Kau bukan seorang perencana, pikiranmu hanya sok tahu." Perkataan itu sangat membantaiku berulang kali di tengah-tengah khawatirku. Sialnya, itu benar.

Aku sempat heran, apa benar jika otak diciptakan Tuhan dengan bentuk serumit itu, untuk diisi semua kerumitan bentuknya? Wow, hal seperti itu saja terdengar merepotkan. Semakin tua, semakin gila dunia ini. Atau, semakin tua, aku ini semakin gila?

Jenakanya kehidupan ada pada saat kau tak terima dengan berbagai bentuk masalahnya. Padahal saat dulu kecil, semua masalah tinggal diceritakan, kemudian selesai. Layaknya dunia yang ditinggali manusia, aku merasa jika tubuhku tengah digerogoti benalu. Ketakutan-ketakutan itu hanya menjadi bayang-bayang brengsek yang tak jelas. Bahkan aku tak menemukan dimana letak mengerikannya hal yang aku pikirkan, ketika aku sudah melakukannya.

Bunda... Hidup ini bajingan.

Aku hanya ingin tarikan nafas panjang itu ketika aku terengah-engah berlarian, bukan karena terlalu banyak pikiran sembari terlentang. Aku hanya ingin pikiran beratku kugunakan untuk belajar matematika dan fisika, bukan untuk memikirkan keadaan dunia dengan segala permasalahannya. Aku hanya ingin mengeluarkan asap dari mulutku ketika cuaca sedang dingin-dinginnya, bukan dengan menghisap tembakau yang pengar. Naas, begitulah keadaannya sekarang.

Ada yang semakin membuatku merasa tertimpa sial. Dimana aku tengah berpikir bagaimana caranya untuk bisa keluar dari sini. Yang sedangkan aku tahu, jika aku tak'kan pernah bisa keluar; entah dengan keadaan hidup mau pun bunuh diri.

Tak ber-obat. Cemas itu sangatlah nyata, berbanding terbalik dengan ketenangan;
yang kurasa fana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Disukai oleh teman anda >>>

Pengampunan Cinta Dibayar Mati