Masih kupertahankan cinta kita dibalik lara yang kusimpan. Sayatan-sayatan perih selalu muncul bersamaan dengan maaf yang kuberikan. Kau begitu sampai hati padaku, Tuan. Sengaja mengukir hatiku dengan belati bukan dengan kasih. Menginjak cintaku dan memberikan jejak duka, kemudian kau paksa aku untuk mengobati segalanya, sendiri. Cinta yang kutuang untukmu, tega-teganya kau buang. Percaya yang kubekalkan padamu hari itu dengan mudahnya kau hancurkan. Hari demi hari kujalani. Akrab makin akrab pula aku berteman dengan perih. Seakan tak pernah ada iba kau menyiksaku sesuka hatimu, memuaskan segala hawa napsumu secara membabi buta, kemudian menyeret dan menjatuhkanku pada lubang abu-abu. Kini, aku sekarat.
Sebelum semua ini terjadi dengan begitu saja. Dahulunya aku sangat percaya jika kau adalah sosok indah yang berbeda dari insan lain di luaran sana. Kau menyemaikan cinta di hatiku seakan-akan selamanya singgah. Kau menempati ruang hampa yang tak pernah memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di dalamnya. Kau memupuknya hingga tumbuh dengan indah, layaknya dirimu. Selama itu, aku sungguh terlena. Aku menikmatinya. Dan aku mulai mencintaimu. Kita menikmati seluruh malam dengan cuacanya yang tak pasti. Malam dingin, malam yang hening. Tetapi yang aku tahu hanya selalu ada kehangatan di antara cinta kita bagaimana pun suasananya. Kita menyanyikan lagu-lagu yang menggambarkan kita. Kita bergandengan tangan sembari saling mengumandangkan kasih sayang. Ya, kala itu aku merasa jika kita adalah manusia paling bahagia.
Kita melalui malam-malam yang begitu panjang. Kita saling menemani di macam-macam suasana hati. Hingga sesuatu yang tak harusnya ku ketahui ternyata menampakkan diri.
(Author is typing...)