Tunjukkan padaku dan buat aku percaya!
Sejatinya aku ini hanyalah jalang yang terlahir sebagai pelengkap isi dunia. Tak berparas cantik, tak berkontribusi dengan baik, aku hanya perempuan duniawi yang munafik. Dimana ada kesenjangan, disitulah aku berada.
Aku ini titik sebuah masalah, gadis problematik dan bahkan sama sekali tidak menarik. Disinilah aku hidup, masih beraktifitas sebagai beban banyak manusia. Hingga pada akhirnya kejiwaanku asing dari keramaian.
Aku merasa hidupku kian hari kian hampa. Abu-abu, membiru dan berdebu. Jiwaku kian hela kian redup. Raga yang ringkih dengan jiwa yang mati. Miris. Aku merasa sepi dan sendiri. Tanpa bantuan dan pertolongan, aku tetap bergerak meski merangkak, meski pula tertatih.
Lalu untuk apa aku masih tetap disini?
Mereka tak menerima kekuranganku dan membuatku tak memiliki siapa-siapa. Mereka menjauhiku, dan melihatku dengan pandangan yang sangat berbeda. Seakan dosa-dosa yang kulakukan teramat sangat berat, mereka lebih memilih angkat tangan dan tak mau terlibat ketika tahu aku dalam keadaan sekarat.
Aku siuman, namun sendirian.
Mereka bahkan tak mampu mendengarkan teriakanku yang begitu kencang. Bayangkan saja, bagaimana jika aku hanya mengeluarkan rintihan? Mungkin saja aku hanya dijadikan bahan tertawa mereka sebagai hiburan. Yang dimana mereka begitu suka melihatku tengah menderita.
Aku butuh uluran tangan.
Penantian yang sangat lama. Aku menunggu bala bantuan tiba. Naasnya, tak kunjung ada. Sekecil ditanya "Apakah kamu baik-baik saja?", aku sama sekali tak pernah mendengarnya. Kemudian mereka menyalahkanku sembari berkata "Kau memang tak punya rasa syukur atas orang-orang disekitar yang menyayangimu!". Dimana harus kuletakkan rasa syukurku? Ketika aku berkali-kali merintih dan nyaris mati saja, tak ada seorangpun yang peduli. Mereka melewatiku begitu saja tanpa menolehnya.
Biarkan aku berhenti.
Puisi ini bukanlah wasiat terakhir yang kutulis. Aku... (Reconnecting)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar